Tes Darah Untuk Alergi Makanan Untuk Anak Autis

Tes komersil yang mengklaim dapat mengidentifikasi alergi atau sensitivitas makanan pada anak dengan autisme adalah ‘pemborosan uang’ dan berpotensi berbahaya, ucap dr. Lavine, ahli alergi/imunologi pediatrik di Humber River Hospital di Toronto, Kanada.

Tes darah yang mengidentifikasi intoleransi makanan dilakukan dengan mengukur kadar antibodi IgG seseorang terhadap berbagai macam makanan. Namun demikian, antibodi IgG tidak terbukti memiliki kaitan dengan penyakit. Karena itu, pelaksanaan tes darah ini hanya membuang uang, namun dalam skenario terburuk, pengetesan dapat menyebabkan pembatasan pola makan yang dapat berbahaya.

Meski tidak efektif, pengetesan IgG untuk mengidentifikasi intoleransi makanan telah tersebar ke Indonesia dengan menjanjikan dapat mengungkap alergi makanan pada anak dengan autisme.

“Saya tidak lagi memiliki asumsi terkait ‘tipe orang’ yang dapat terperangkap dalam pengujian ini karena apa yang telah saya lihat selama praktik lapangan. Saya telah melihat berbagai orang yang berniat baik, teredukasi, dan sadar informasi dari semua lapisan masyarakat terbawa pada pola pikir dan merasa bahwa tes ini mungkin merupakan jawaban bagi mereka”

Dr. Lavine E., MD, FRCPC

Tes ini, yang dapat menghabiskan biaya ratusan dolar Amerika, mencari reaksi antibodi anak terhadap berbagai macam makanan. Dan ketika ditemukan respon dengan antibodi yang dikenal dengan Immunoglobulin G, atau IgG, maka hasil ini digolonkan tidak sehat, dan mengindikasikan adanya alergi makanan, intoleransi makanan, atau “sensitivitas” makanan.

Komunitas medis sepakat dengan satu suara bahwa ini adalah interpretasi yang tidak tepat terkait cara kerja sistem imun, didasarkan pada beberapa fakta yang ditarik keluar konteks ditambah dengan riset yang tidak sempurna.

Mayoritas spesialis di bidang alergi dan imunologi sepakat bahwa tidak ada bukti yang menyatakan antibodi IgG menyebabkan alergi, intoleransi, atau sensitivitas makanan.

Untuk melindungi publik, asosiasi medis profesional di berbagai negara meminta pakar imunologi terbaik untuk menyiapkan position statement untuk memperingatkan publik tentang tes ini.

Tes IgG di Indonesia

Tes ini dikomersilkan di Indonesia oleh beberapa laboratorium seperti US BioTek, Doctor’s Data dan Genova Diagnostic. Laboratorium tersebut, karena melakukan pengetesan tidak terstandar telah menerima banyak kritik. Seorang teknisi laboratorium, mantan karyawan US BioTek memberi komentar tentang pengalamannya di perusahaan tersebut dan berkata:

“US BioTek menjual produk yang tidak memiliki relevansi diagnostik. Tindakan ini menurunkan moral, mengubah sains menjadi produk yang tidak berfaedah”

Dr. Barrett, psikiater di Amerika, salah satu pendiri National Council Against Health Fraud, mencantumkan nama US BioTek, Doctor’s Data dan Genova Diagnostic di antara laboratorium yang melakukan pengetesan tidak terstandar. Ia menulis “ketika mengevaluasi para praktisi, kami menilai penggunaan rutin dari laboratorium berikut sebagai tanda negatif”. Dengan kata lain, jika dokter Anda merekomendasikan pengetesan ini, Anda perlu mempertimbangkan dengan serius untuk berganti dokter.

US BioTek, tampak menghilangkan tanggung jawab moralnya dalam menjual pengetesan yang tidak benar dengan menambahkan footnote yang hampir tidak terlihat pada laporan pengetesan:

Tes ini tidak dimaksudkan untuk mendiagnosa, mengobati, menyembuhkan, atau mencegah penyakit apapun. Tes ini belum dievaluasi oleh U.S. Food and Drug Administration.

Jika dituliskan dengan kata lain: Waspadalah, tes ini tidak berguna.

Lalu, bagaimana mungkin dokter yang ternama merekomendasikan untuk memberikan diet yang restriktif berdasarkan tes ini?

Menurut Anna Laforeston dari foodconnections.org, terdapat beberapa mitos yang digunakan oleh laboratorium komersil untuk membenarkan tes darah (tes IgG) dalam mengidentifikasi intoleransi makanan.

 Mitos 1: Kadar antibodi IgG yang tinggi di dalam tubuh menandakan bahwa tubuh Anda sedang menunjukkan reaksi alergi terhadap makanan tertentu. 

FAKTA: Semua orang memproduksi antibodi IgG sebagai reaksi terhadap makanan. Walaupun tes darah untuk alergi makanan menggolongkan kadar antibodi IgG Anda yang diproduksi sebagai reaksi terhadap berbagai macam makanan kedalam tingkatan rendah, menengah, dan tinggi, pada dasarnya sebenarnya tidak ada kadar yang ‘tepat.’ Bahkan orang yang sehat sempurna pun akan memiliki kadar IgG yang tinggi terhadap beberapa jenis makanan.

Mitos 2: Antibodi IgG merupakan penyebab munculnya gejala alergi.

FAKTA: Pandangan ini muncul dari sebuah penelitian yang sudah berumur lebih dari 30 tahun yang dilakukan oleh Fagan et al pada tahun 1982. (13). Sejak saat itu, penelitian ini sudah terbukti tidak benar dan tidak ada penelitian lain yang menunjukkan adanya hubungan diantara IgG dan daya tahan tubuh. Sebaliknya, beberapa penelitian bahkan telah menunjukkan bahwa kadar antibodi yang tinggi memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan kesehatan seseorang.

Untuk informasi lebih lanjut: Mendiagnosa alergi makanan

Mitos 3: Antibodi IgG menyebabkan inflamasi

Ini merupakan pernyataan yang salah. IgG dibagi menjadi empat jenis (IgG1 sampai IgG4), dan masing-masing memiliki peran yang berbeda (beberapa antibodi IgG memiliki efek yang dapat mendukung terjadinya inflamasi, tetapi ada juga diantaranya yang memiliki efek anti-inflamasi). Keberadaan antibodi IgG sangat diperlukan untuk menstabilkan daya tahan tubuh kita. Reaksi inflamasi bergantung kepada interaksi kompleks diantara agen-agen tersebut, dan “menggunakan hanya satu jenis IgG sebagai bukti bahwa semua antibodi IgG menyebabkan inflamasi merupakan suatu bentuk penyederhanaan masalah yang benar-benar keliru.”

Mitos 4: Diet yang didasarkan kepada kadar IgG dalam tubuh sudah terbukti dapat meredakan gejala secara signifikan.

Ini merupakan pernyataan yang salah. Walaupun sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung adanya reaksi alergi terhadap makanan yang disebabkan oleh IgG, sudah ada beberapa penelitian klinis yang berusaha menentukan apakah diet berdasarkan kadar IgG dalam tubuh dapat meredakan gejala alergi atau tidak. Sayangnya, penelitian-penelitian tersebut memiliki ketidaksempurnaan yang mengakibatkan hasilnya menjadi tidak relevan. Lagipula, persentase peningkatan kesehatan yang ditunjukkan oleh penelitian-penelitian tersebut sangat rendah—jauh lebih rendah daripada penelitian diet lainnya yang menggunakan metode-metode yang sudah terbukti.

 

Jadi, apa yang seharusnya saya lakukan?
ika Anda kuatir anak Anda memiliki sensitivitas makanan, tes darah IgG tidaklah bernilai. Satu-satunya metode ilmiah untuk mengidentifikasi sensitivitas makanan adalah melalui elimination diet dan food challenges. Anda dapat berkonsultasi langsung dengan Ahli Alergi/Imunologi Pediatrik.

References:

“Doctors’ positions on food intolerance blood tests” by Anna L. Laforest, 2014, posted on FoodConnections.org

“Tests for food allergies, sensitivities a ‘waste of money,’ doctor says” by Helen Branswell, 2012, posted on theglobeandmail.com

“Laboratories Doing Nonstandard Laboratory Tests” by Stephen Barrett, 2015, posted on quackwatch.org

“Myths used to justify food intolerance blood tests (IgG tests)”Anna L. Laforeston, 2014 on FoodConnections.org

3933