Pentingnya Interaksi Sosial bagi Perkembangan Bicara

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa interaksi sosial sangatlah krusial dalam proses pembelajaran bahasa pada anak. Fitur spesifik apa dari interaksi sosial yang diperlukan untuk perkembangan bicara masih menjadi spekulasi, namun melalui penelitian, telah dapat disimpulkan panduan umum untuk mengarahkan intervensi bagi anak yang non-verbal, baik di dalam atau di luar spektrum autisme.

Bukti yang semakin kuat terkait peran interaksi sosial dalam perkembangan bicara

Hasil dari sederet riset yang dipimpin oleh Dr. Patricia Kuhl, Profesor Speech and Hearing Sciences dan co-director dari Institute for Learning & Brain Sciences di University of Washington, menunjukkan bukti yang sangat kuat bahwa perkembangan bicara awal sangat bergantung pada interaksi sosial.

Pada tahun 2003, dari penelitian pertama mereka yang inovatif tentang subjek tersebut, Kuhl dan kolega membandingkan diskriminasi fonetik, sebuah ukuran perkembangan bicara, pada bayi yang terpapar dengan interaksi sosial dengan pembicara yang bermain dengan mereka dibandingkan dengan bayi yang terpapar pada bahasa yang sama, namun melalui rekaman (lihat Kuhl et al., 2003 untuk detil dari desain eksperimen dan hasil). Data menunjukkan bahwa hanya anak-anak dalam kelompok interaksi langsung yang berhasil menguasai diskriminasi fonetik yang merupakan dasar dari pengenalan dan produksi bahasa di usia lebih lanjut, sementara anak-anak yang hanya menonton video, meski mereka terpapar dengan input auditori yang sama, tidak menunjukkan tanda pembelajaran fonetik.

INTERAKSI LANGSUNG VS VIDEO-AUDIO EXPOSURE. HASIL MENUNJUKKAN PEMBELAJARAN FONETIK HANYA TERJADI PADA KELOMPOK INTERAKSI LANGSUNG (DIADAPTASI DARI KUHL, 2007)

Mengapa interaksi sosial perlu bagi perkembangan bicara?

Sangatlah penting bagi para praktisi yang mendesain dan mengimplementasikan program bagi anak-anak non-verbal untuk dapat mengidentifikasi proses sosial pragmatis yang spesifik dari interaksi sosial yang dapat mendukung perkembangan bahasa.

Penulis riset di atas juga memaparkan beberapa proses motivasional dan atensional yang dapat memediasi pembelajaran bicara melalui pengalaman sosial pada tulisan lainnya (lihat Kuhl 2007, Kuhl et al., 2003).

Pertama-tama, interaksi sosial antara orang dewasa dan bayi meningkatkan atensi bayi terhadap stimulus auditori. Selama interaksi langsung, ketika informasi auditori diarahkan pada mereka, anak-anak menjadi lebih atentif dan bersemangat dibandingkan anak yang memperoleh stimulasi audio-visual yang impersonal. Ucapan yang diarahkan kepada bayi dapat menangkap perhatian anak dan meningkatkan pembelajaran fonetik melalui keterkaitannya dengan hal yang sedang dilakukan atau sedang diperhatikan anak.

Dengan kata lain, relevansi dari objek dan kejadian yang menarik, reaksi emosi yang dihasilkan, dan fokus atensi yang terjadi, memotivasi dan mendukung pemrosesan auditori terhadap kata-kata yang diucapkan.

Namun, interaksi sosial memiliki peran yang lebih dari hanya meningkatkan motivasi dan atensi anak. Seperti yang telah didokumentasikan dengan ekstensif, persepsi terhadap tindakan orang lain dapat mengaktivasi area korteks sensorik maupun motorik. Keterkaitan antara persepsi dan tindakan, dimediasi oleh yang disebut ‘mirror neurons’, diyakini sebagai dasar dari kemampuan manusia untuk memahami intensi dan menirukan tindakan orang lain.

Dapat dispekulasikan bahwa pentingnya interaksi sosial bagi perkembangan bicara pada akhirnya bergantung pada mekanisme kerja otak tersebut. Ketika anak terlibat dengan orang lain yang melakukan tindakan yang bermakna dan menarik baginya, anak tidak akan mengobservasi secara pasif tetap berpartisipasi penuh dalam interaksi. Partisipasi penuh juga melibatkan aktivasi sistem sensori-motor yang mendasari imitasi dan bicara.

Implikasi bagi intervensi pada anak nonverbal

Implikasi dari berbagai penelitian tersebut bagi intervensi bagi anak yang non-verbal tentulah sangat besar dan mendorong para praktisi yang bekerja dengan anak yang terlambat bicara, dengan atau tanpa autisme, untuk mendesain program yang berpusat pada interaksi sosial yang memotivasi dan bermakna. Riset yang kami tinjau mendukung model intervensi yang baru yang memfokuskan kegiatan terapi pada membangun dan menstimulasi interaksi timbal balik (social reciprocity), keterlibatan, dan inisiasi spontan pada diri anak.

Tidaklah mengagetkan, jika mempertimbangkan diskusi di atas, bahwa model intervensi tradisional, yang sangat bergantung pada stimulus yang dikeluarkan dari konteksnya dan reinforcement ekstrinsik, gagal untuk mengidentifikasi strategi yang efektif untuk mendukung perkembangan bicara pada anak yang non-verbal (lihat, sebagai contoh, hasil yang mengecewakan dari prosedur Stimulus-Stimulus Pairing atau latihan imitasi vokal).

Intervensi tradisional menghilangkan fitur-fitur interaksi sosial antara terapis dan anak, yang justru dalam konteks natural dapat memfasilitasi penguasaan bahasa pada anak. Melibatkan anak pada tugas, yang secara intrinsik tidak bermakna dan tidak bertujuan, kemungkinan tidaklah cukup untuk mengaktivasi mekanisme kerja otak yang mendasari pembelajaran bahasa. Dalam hal ini, intervensi tradisional, yang mengalokasikan sebagian besar waktu anak untuk terlibat dalam interaksi yang menyerupai konteks non-sosial, bahkan mungkin terbukti kontra-produktif bagi perkembangan bahasa anak.

Referensi

Conboy, Barbara T., et al. (2015). “Social interaction in infants’ learning of second-language phonetics: An exploration of brain–behavior relations.” Developmental Neuropsychology 40.4 : 216-229.

Lytle, S. R., & Kuhl, P. K. (2018). Social interaction and language acquisition: Toward a neurobiological view. In E. M. Fernández & H. S. Cairns (Eds.), Blackwell Handbooks in Linguistics. The Handbook of Psycholinguistics (pp. 615–634). Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell.

Kuhl, Patricia K. “Is speech learning ‘gated’by the social brain?.” Developmental science 10.1 (2007): 110-120.

Kuhl P., Damasio A. (2012) Language, in E. R. Kandel, J. H. Schwartz, T. M. Jessel, S. Siegelbaum, J. Hudspeth (Eds.), Principles of neural science: 5 th Edition. New York: McGraw Hill.

Kuhl, P.K., Tsao, F.-M., & Liu, H.-M. (2003). Foreign-language experience in infancy: effects of short-term exposure and social interaction on phonetic learning. Proceedings of the National Academy of Sciences, USA, 100, 9096–9101.

Meltzoff, Andrew N., and Patricia K. Kuhl. “Exploring the infant social brain: What’s going on in there.” Zero to Three 36.3 (2016): 2-9.

 

140

You may also like