Pembatasan Makanan dan Pemberian Suplemen dapat memperburuk Gejala Autisme pada Anak

Riset menunjukkan bahwa terdapat 3 faktor yang menyebabkan anak dengan Autisme berisiko lebih tinggi untuk mengalami ketidak seimbangan nutrisi:

  • Selektivitas makanan. Lebih dari 90% anak dengan Autisme menampilkan penolakan makanan dan selektivitas makanan yang mengurangi variasi makanan dalam pola makannya.
  • Pembatasan makanan. Sebagian besar anak diberi pembatasan pola makan (mis. diet bebas gluten dan bebas kasein, serta diet Keto), yang dapat berkontribusi semakin mengurangi variasi makanan yang dikonsumsi anak.
  • Pemberian suplemen. Sekitar 50% dari anak dengan diagnosis Autisme menerima suplemen, yang dimaksudkan untuk mengkompensasi nutrisi yang kurang atau sebagai intervensi terapi untuk kebutuhan nutrisi yang diduga, namun hingga sekarang belum terbukti, seara khusus diperlukan oleh anak dengan Autisme.

Efek gabungan dari 3 faktokr ini dapat berkontribusi pada ketidak seimbangan nutrisi yang dapat memperburuk gejala autisme. Baik kekurangan maupun kelebihan mikronutrien (mis. vitamin, mineral, dan asam lemak) telah dideteksi oleh peneliti pada anak dengan Autisme.

Di satu sisi, baik pola makan dan selektivitas makanan menyebabkan anak hanya mengkonsumsi jenis makanan yang terbatas dan repetitif, yang menyebabkan kurangnya asupan mikronutrien tertentu, dan lebihnya asupan mikronutrien lainnya. Di sisi lain, pemberian suplemen yang didasarkan pada evaluasi yang tidak akurat terhadap asupan anak atau didasarkan pada gagasan naif bahwa “semakin banyak semakin baik” dapat menyebabkan nutrisi yang semakin tidak seimbang, kegagalan dalam mengatasi defisiensi nutrisi, dan pemberian mikronutrien dengan jumlah berlebih.

Riset menunjukkan bahwa sejumlah signifikan dari anak dengan Autisme menerima suplementasi yang melewati batas atas asupan aman untuk vitamin A, asam folat, dan zinc, tetapi terus mengalami kekurangan asupan kalsium dan vitamin D.

Sementara kebanyakan orang menyadari dan kuatir akan bahaya yang disebabkan kekurangan nutrisi, hanya sedikit yang tampaknya menyadari risiko dari asupan mikronutrien yang berlebih.

Lekas marah, kebingungan, pusing, mual, kelelahan, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, kram perut, gangguan tidur, dan kerusakan syaraf permanen hanyalah beberapa dari gejala yang terasosiasi dengan dosis mikronutrien yang melebihi tingkat yang disarankan. Gejala-gejala ini bisa jadi tidak terdeteksi pada banyak anak dengan Autisme yang tidak dapat melaporkannya karena bahasa yang terbatas. Lebih buruk lagi, gejala-gejala ini dapat secara keliru dikaitkan oleh orangtua dengan kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi, yang kemudian mengarahkan orangtua untuk memberikan pola makan yang lebih terbatas dan dosis suplemen yang lebih tinggi.

Sangat disayangkan, hal ini tidak jarak ditemukan dalam praktik klinis, di mana cukup umum untuk menemui anak dengan pola makan yang sangat terbatas dan mengkonsumsi beberapa suplemen multivitamin/mineral dengan pengawasan medis yang tidak memadai dan bahkan tanpa pengawasan medis sama sekali. Saran terkait suplemen dan pola makan bagi anak dengan Autisme sangat banyak ditemukan di internet dan beberapa orangtua berpikir bahwa vitamin dan makanan sehat tentu tidak mungkin berbahaya. Ketidak seimbangan nutrisi adalah kondisi yang berkembang dengan lambat dan beberapa gejalanya awalnya terlihat sebagai kemajuan, dan menguatkan keyakinan orangtua terhadap efektivitasnya. Kami melaporkan pada halaman berikut bagaimana orangtua dapat salah menafsirkan kurangnya tingkat aktivitas anak yang disebabkan oleh asupan makanan yang kurang memadai sebagai hiperaktivitas yang berkurang.

Seiring waktu, seiring memburuknya gejala-gejala yang ditampilkan, ketidak puasan terhadap hasil ini akan mendorong orangtua untuk meningkatkan pembatasan pola makan dan pemberian suplemen. Di klinik, kami menemukan kasus di mana seorang anak mengkonsumsi 19 (!) suplemen mineral / multivitamin yang berbeda, dan diperkirakan ia menerima asupan Vitamin B6, Vitamin C, Asam Folat, dan Selenium di atas tingkat aman yang direkomendasikan. Beberapa dari suplemen ini dikonsumsi lebih dari 200% di atas tingkat aman dan lebih dari 10 kali dosis harian yang direkomendasikan. Sungguh tragis untuk mengetahui bahwa orangtua mencapai dosis ini sebagai usaha untuk mengatasi gejala yang sesungguhnya disebabkan oleh pemberian suplemen yang berlebih. Tentu, ini adalah kasus yang ekstrim, namun tetap mengindikasikan bahwa praktik ini merupakan ancaman yang nyata terhadap kesehatan anak.

Referensi

Booms, S., Hill, E., Kulhanek, L., Vredeveld, J., & Gregg, B. (2016). Iodine Deficiency and Hypothyroidism From Voluntary Diet Restrictions in the US: Case Reports PEDIATRICS, 137(6).

Burkhart, A., The Danger Of Vitamin Toxicity On A Gluten-Free Diet. (2104). Amy Burkhart Website.

Folic Acid, WebMD Website.

Peretti, S., Mariano, M., Mazzocchetti, C., Mazza, M., Pino, M. C., Verrotti Di Pianella, A., & Valenti, M. (2018). Diet: the keystone of autism spectrum disorder? Nutritional Neuroscience, 1–15.

Stewart, P. A., Hyman, S. L., Schmidt, B. L., Macklin, E. A., Reynolds, A., Johnson, C. R., … Manning-Courtney, P. (2015).  Dietary Supplementation in Children with Autism Spectrum Disorders: Common, Insufficient, and Excessive. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 115(8), 1237–1248.

Zinc, Fact Sheet for Consumers, Website of U.S. Department of Health & Human Services.

259