Terlambat bicara: Kenali dan Atasi

Hampir 10% anak belum mulai menggunakan kata-kata bermakna saat mereka merayakan ulang tahun kedua. Sangat wajar, ketika anak belum berbicara di usia 2 tahun, ini akan menjadi perhatian khusus bagi orangtua.

Meski mayoritas anak yang terlambat berbicara dapat mengejar keterlambatannya di usia lebih lanjut tanpa konsekuensi jangka panjang yang negatif, ketiadaan kata pada usia 2 tahun dapat mengindikasikan berbagai gangguan perkembangan, seperti autisme, intellectual disabilities, kehilangan pendengaran, gangguan bicara, gangguan Bahasa, atau gangguan sosial-komunikasi.

Ketika orangtua merujuk anak untuk memperoleh asesmen, merupakan tantangan bagi klinisi untuk dapat memahami apa arti dari keterlambatan berbicara yang ditampilkan anak dan intervensi apa, jika diperlukan, yang dibutuhkan.

Interaksi nonverbal dengan orangtua dan orang lain, kemampuan untuk telribat dalam kegiatan bermain yang sesuai usianya, kemampuan untuk memahami kata dan instruksi ganda, variasi dan frekuensi vokalisasi yang ditampilkan, serta tampil atau tidaknya infleksibilitas adalah indikator kunci yang perlu dipertimbangkan klinisi dalam memberi diagnosis.

Diagnosis yang akurat dan sedini mungkin dapat menghindarkan dari bahaya pendekatan “tunggu saja, nanti juga bisa”, yang dapat menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga jika anak membutuhkan intervensi klinis; serta dapat mengarahkan orangtua pada pilihan penanganan yang tepat bagi anak.

Di sisi lain, diagnosis yang tidak akurat berisiko mengarahkan orangtua untuk melakukan intervensi yang tidak efektif, atau bahkan merugikan anak. Anak yang secara tidak akurat didiagnosa ASD, mungkin akan ditangani dengan DTT (discrete trial teaching) intensif dan reward ekstrinsik yang dapat lebih menghambat perkembangan sosial pada anak yang terlambat bicara. Meniup pluit, sikat gigi elektrik, dan pijat oral juga mungkin direkomendasikan untuk memperkuat dan merangsang lidah dan otot oral, karena diagnosis yang salah bahwa anak memiliki masalah fisik pada struktur mulut. Atau menggunakan rompi beban (weighted vest), menyikat lengan anak, atau aktivitas fisik dapat disarankan bagi anak yang salah didanogisis memiliki “Sensory Integration Disorder”.

Diagnosis yang tepat membuka kemungkinan bagi intervensi yang tepat. Tidak terdapat intervensi yang one-size-fits-all bagi anak yang terlambat bicara: Nutrisi, kelekatan, regulasi emosi, tipe dan kualitas interaksi sosial hanyalah beberapa dari area yang membutuhkan intervensi. Namun demikian, pada setiap individu, sangatlah penting untuk mendukung perkembangan sosial anak dengan memperkuat komunikasi nonverbal dan keterlibatan sosial. Bergantung pada tiap kasus, hal ini mungkin dapat dilakukan melalui intervensi langsung dengan anak oleh terapis yang terlatih atau melalui intervensi yang dimediasi orangtua. Yang pasti, tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan kondisi sosial natural yang memberi anak kesempatan untuk mengembangkan bahasa tanpa dukungan khusus.

Referensi:

Late-talking children: A symptom or a stage?, Camarata S. (2014), Cambridge, MA: MIT Press.

What does it mean when a child talks late?, Camarata, S. (2014). The Brown University Child and Adolescent Behavior Letter, 30(12), 1–7.

125

You may also like